Rabu, 12 Desember 2012

Kepemimpinan Kongregasi






Kepemimpinan Kongregasi
 

Kongregasi ini adalah kongregasi kepausan. Karena kongregasi ini dibaktikan secara khusus untuk melayani Allah dan seluruh Gereja, maka ia ditempatkan di bawah kuasa tertinggi Gereja secara istimewa. Masing-masing suster wajib taat kepada Sri Paus, selaku pemimpin mereka yangtertinggi, juga atas dasar kaul ketaatan. (Konstitusi No. 606)
Kongregasi ini dibagi menjadi propinsi-propinsi, viceprovinsi-vicepropinsi, regio-regio, dan rumah-rumah yang langsung ditempatkan di bawah Dewan Pimpinan Jenderal. Kongregasi secara keseluruhan dipimpin oleh pemimpin jenderal beserta dewan penasihatnya; secara terinci oleh pemimpin propinsi  beserta dewan penasihatnya. (bdk Konstitusi No. 608)


Pemimpin Jenderal
Pemimpin Jenderal mempunyai jabatan untuk memimpin serta mengelola seluruh kongregasi yang dipercayakan kepadanya, menurut norma-norma hukum Gereja, konstitusi ini dan keputusan-keputusan Kapitel Jenderal. Dalam kedudukan ini beliau mempunyai tanggungjawab utama atas seluruh kongregasi (bdk Konstitusi 649)
Dalam melaksanakan tugasnya, pemimpin jenderal dibantu enam suster penasihat, yang disebut dewan penasihat jenderal. Suster penasihat yang pertama disebut Vikaris Jenderal. Lama jabatan para suster penasihat  ditentukan enam tahun ( bdk. Konstitusi 659).
Dalam jenderalat tercakup jabatan-jabatan sekretaris jenderal dan ekonom jenderal.

Selasa, 11 Desember 2012

Karya Kerasulan



Karya Kerasulan

Dengan sabda,”Pergilah dan perbaikilah rumah-Ku.” St.Fransiskus dan saudara-saudaranya telah memenuhi panggilan ini dalam kesatuan yang sadar dengan Bapa Suci, para uskup dan gembala-gembala jemaat setempat (Konstitusi No. 408).
Panggilan kita untuk mengikuti Kristus di dalam suatu tarekat Fransiskan yang aktif, menuntut agar kita – seperti Fransiskus- dengan setia pada Gereja mengenali tugas perutusan kita bersama, yaitu ikut serta membangun dan memperkembangkan tubuh Kristus. (Konstitusi 409)
Perintah Tuhan kepada Gereja meliputi keselamatan seluruh dunia dan segenap manusia serta mewajibkan kita pula untuk melaksanakan karya misi. Kongregasi kita, dimana para suster yang berasal dari pelbagai bangsa bekerjasama, berusaha memenuhi tugas perutusan ini dan turut membantu supaya segenap bangsa manusia menjadi umat Allah (Konstitusi 410).
Guna menanggapi kebutuhan zaman, maka kongregasi kami mempunyai pelbagai bidang karya. Setiap bidang karya mempunyai wakil yang disebut dewan suster. Adapun tugas dewan suster ialah mengabdi demi adanya hubungan yang hidup antara pemimpin tinggi beserta dewan penasihatnya dengan para suster di pelbagai bidang karya dalam kongregasi(Konstitusi 6123).

Bidang-bidang Karya yang ada


Karya Rumah Tangga
Karya Administrasi


Karya Pendidikan

Karya Kesehatan

Karya Pastoral

Rumah Retret La Verna
Karya Sosial

Redaksi



Redaksi

Alamat Redaksi
Jalan Gereja No. 13 Pringsewu 35373
Lampung Indonesia


Penanggung Jawab         
Pemimpin Provinsi : Sr. M. Julia Juliarti

Kontak
Sr. Fransiska Ambarum Agustini Etikorini
Sr. Veronica Tri Budi Pamularsih


Site ini masih dalam tahap Beta, dan akan dikembangkan seiring berjalannya waktu.

Link

Liturgi




Liturgi dan Doa

 
Kita juga mengalami persekutuan itu jika kita bersama-sama mengelilingi meja altar untuk merayakan Ekaristi Kudus. Di sini hidup bersama mencapai puncaknya dan diperbarui terus-menerus. Kita mendengarkan sabda Kristus, kita diangkat ke dalam persatuan dengan wafat dan kebangkitan-Nya serta menyambut tubuh dan darah-Nya agar kita bersatu dengan Kristus dapat melanjutkan hidup-Nya yang penuh penyerahan diri dalam mengabdi sesama. Dengan demikian kita memenuhi panggilan imamat umum dan mengikuti St.Fransiskus yang sangat besar cintakasihnya kepada Ekaristi Kudus.





Perayaan Ekaristi adalah  pusat hidup kita masing-masing dan pusat hidup komunitas kita. Kita mengikuti perayaan ini setiap hari (Konstitusi 202)

Di dalam sakramen iman ini, yang diwariskan Tuhan bagi sahabat-sahabat-Nya, kita menghormati Kristus yang tersembunyi dalam rupa roti



Makin dalam penghormatan kita kepada Ekaristi Kudus, makin kita alami betapa berharga hidup tersembunyi bersatu dengan Kistus dalam Allah (Konstitusi 203).

Dengan doa ibadat harian kita ikut serta dalam doa pujian seluruh Gereja. Bapa kita St.Fransiskus menugaskan saudara-saudaranya, berdoa ibadat harian untuk memuji Sang Pencipta. Doa ibadat harian bagi kita adalah doa utama dari doa-doa harian kita (bdk Konstitusi 204).

Sekarang ini gerakan devosi Adorasi, termasuk Adorasi Ekaristi, berkembang pesat di berbagai tempat wilayah Gereja di dunia. Tahun Ekaristi dari Oktober 2004 – Oktober 2005 yang lalu ikut memberikan dorongan giatnya umat beriman dalam beradorasi. Kita bersyukur atas perkembangan iman dan kecintaan umat akan Ekaristi ini. Semoga Tuhan menambah jumlah umat beriman yang mencintai Ekaristi dan beradorasi pada-Nya, dan pada gilirannya Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan seluruh umat kristiani di manapun. (Komisi Litugi KAS)

Berikut kami informasikan Jadwal Perayaan Ekaristi dan adorasi Ekaristi  di rumah pusat propinsi dan di Rumah Retret La Verna.


Di rumah pusat propinsi

Perayaan Ekaristi.
Pada hari Senin, Selasa, Kamis, Jumat Pukul 06.00  di gereja paroki St. Jusup, Pringsewu
Pada hari Rabu, di makam biara St.Theresia
Pada hari Sabtu pukul 06.00 di kapel susteran.
Pada hari Minggu pukul 06.45 di Gereja Paroki St. Jusup

Keterangan.
Perayaan Ekaristi, pada hari Sabtu, terbuka juga untuk umum 

Adorasi Ekaristi
Hari Senin, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu:
Pagi hari: pukul 07.30 s.d. 08.30
Sore hari: pukul 15.30 s.d. 16.30
Hari Selasa: sepanjang hari pukul  07.30 s.d 19.30
Hari Minggu:
            Pagi hari, pukul 10.00 s.d 12.00
            Sore hari, pukul 15.30 s.d 16.30
Setiap hari Sabtu pertama dalam bulan, diadakan adorasi sepanjang malam, dari pukul 21.00 s.d 05.00
Setiap hari Kamis malam Jumat I, diadakan adorasi pada pukul 19.00 s.d pk 20.00 di kapel susteran

Keterangan
Adorasi ini, selain pada hari Kamis malam Jumat I, bertempat di ruang samadi/ruang doa susteran St. Jusup. Adorasi ini terbuka juga untuk umum.

  
Di Rumah Retret La Verna, Padangbulan

Perayaan Ekaristi.
Setiap hari, pukul 06.00 di kapel susteran
Hari Minggu, pukul 6.30 di kapel atas RR. La Verna
Hari Jumat I, pukul 16.00 di kapel atas RR.La Verna

Adorasi Ekaristi
Setiap hari, pagi hari pukul 07.30 s.d. pk 8.00,
                   sore hari pukul 15.30 s.d 16.30
Bertempat di kapel susteran.
Hari Kamis malam Jumat I, ada pentahtaan Sakramen Maha Kudus pukul 19.00 sampai pukul 20.00. Diawali dengan Ibadat sore  pukul 18.30, bertempat di kapel atas RR. La Verna
Keterangan: Perayaan Ekaristi dan Adorasi Ekaristi, terbuka juga untuk umum.
 

Novisiat




Novisiat Itu Apa?

Novisiat adalah rumah formatio atau rumah pembinaan.


Tujuan dari Rumah Formatio/ Rumah Pembinaan Novisiat


 
Formatio atau rumah pembinaan bertujuan untuk mendidik para calon suster agar mendalami hidup membiara sesuai dengan semangat pendiri/kharisma pendiri, yang menjadi penggerak setiap anggota sehingga menjadi spiritualitas kongregasi.

Tujuan akhir dari pembinaan adalah agar setiap calon mempunyai pengalaman akan Allah secara pribadi dalam kebersamaan.

Masa Novisiat berlangsung dua tahun lamanya, yang satu tahun diwajibkan sebagai tahun kanonik. Tahun kanonik yang terutama dipergunakan untuk pembentukan hidup kebiaraan dan kerohanian para suster, sedapat mungkin jangan terputus.
Kepergian dari rumah Novisiat melebihi tiga bulan secara terus-menerus atau terputus-putus, membuat novisiat tidak sah. Kepergian yang melebihi limabelas hari harus diganti (bdk. Konstitusi 514)
Dalam tahun yang bukan kanonik para novis boleh diperkenalkan dan diserahi karya kerasulan kongregasi, tetapi sekurang-kurangnya lima bulan sebelum pengikraran profesi pertama mereka harus kembali ke rumah novisiat. Pengalaman di luar komunitas novisiat ini berguna untuk menguji kesungguhan panggilannya (Konstitusi 515).

Setelah menyelesaikan masa Novisiat Sr. Merlinda mengucapkan profesi pertama


Panggilan Pada Akhir Masa Novisiat
Bahwa panggilan pribadinya adalah tawaran Allah melalui kongregasi, yang dijawabnya secara sadar, rela dan tulus dalam pergumulan-pergumulan hidup yang dialaminya selama di novisiat; tampak kemampuan untuk menanggung risiko dan konsekuensi dari pilihan hidupnya karena didorong oleh motivasi murni untuk hidup sebagai religius karena cinta kepada Allah dan sesama serta merasa bahagia atas pilihannya.
Secara konkret berarti:
  •  Memiliki kerinduan untuk bersatu dalam relasi Tritunggal yang menghidupkan
  • Tidak menyia-nyiakan anugerah daya cipta Bapa, daya pemulih Putra, dan pemersatu Roh Kudus dan daya keterbukaan Maria
  •  Mau diubah oleh daya-daya tersebut, agar mengalami persatuan relasi dengan Allah Tritunggal yang menyelamatkan

Pergumulan
  •  Konsistensi dan inkonsistensi; mulai menyelesaikan masalah-masalah emosional akibat dari gangguan ringan sampai pada taraf jarang
  •  Meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan tuntutan-tuntutan panggilan yang berkaitan dengan:
a.     Psikosomatis
b.    Obsesi
c.     Kompulsif
d.    Fobia
e.     Ritual
  • Dendam dan pengampunan   
Ruang doa di Novisiat

Program Kegiatan Harian dan jadwal Pelajaran 

(Ditinjau kembali setiap awal tahun pendidikan)

Pkl. 04.15           : Bangun pagi
04.50                  : Ibadat pagi
05.20                  : Meditasi
06.00                  : Misa Kudus, makan pagi
07.00 – 08.25     : Bekerja
08.30 – 10.30     : Belajar
10.30 – 11.00     : Minum
11.00 – 11.15     : Doa Pribadi
11.15 – 12.00     : Bekerja
12.00 – 12.30     : Ibadat siang
12.30 – 13.15     : Makan siang
13.15 – 14.00     : Cuci piring dll.
14.00 – 15.00     : ISTIRAHAT
15.30 – 16.30     : ADORASI
16.45 – 17.45     : Belajar
18.00 – 19.00     : Rosario dan Ibadat sore
19.00 – 19.30     : makan malam
20.00 – 21.00     : Studi Pribadi/Koor/Rekreasi
21.00 -                 : Ibadat Penutup
21.00 – 22.00     : Pribadi/menulis meditasi
22.00                   : ISTIRAHAT

Syarat-Syarat Masuk


1.    Telah dipermandikan dan dan telah menerima Sakramen Krisma
2.    Atas kehendak sendiri
3.    Merasa dipanggil
4.    Minimal lulusan SMU atau yang sederajat
5.    Sehat jasmani dan rohani
6.    Dapat bekerja sama dengan orang lain
7.    Bersedia mengabdikan diri kepada kepentingan umum/Gereja
8.    Mau hidup sederhana
9.    Mampu hidup bersama
10. Surat izin dari orangtua dan surat keterangan dari pastor paroki/pastor lain
11. Surat pernyataan dari orangtua /pastor paroki bahwa calon dalam keadaan tidak menikah
12.   Akta kelahiran

Alamat:
Novisiat St.Maria
Jl. Gereja 13
Pringsewu 35373
Lampung-INDONESIA
Tel: 0729- 21334
Fax: 0729 -21335
E-mail:fsgm_pringsewu.yahoo.com
Pemipimpin Novis : Sr.M.Yoannita.


Ingin tahu lebih lanjut?
Atau anda ingin bergabung dengan kami?
silahkan hubungi:


      Suster M. Yoannita Sutinah FSGM

dengan alamat seperti di atas atau para suster di komunitas-komunitas yang anda kenal.







Kepemimpinan Provinsi


Pemimpin Propinsi

Tugas pemimpin propinsi ialah memimpin propinsinya dalam ketergantungan pada Pemimpin Jenderal, dan menjalankan jabatannya menurut ketentuan-ketentuan konstitusi. Beliau dibantu oleh seorang vikaris dan tiga suster penasihat (Konstitusi 685)
Komunitas-komunitas dalam propinsinya berada di bawah pimpinan pemimpin propinsi. Beliau mewakilinya terhadap instansi-instansi Gereja dan pemerintah (Konstitusi 687)
Dalam melaksanakan tugasnya pemimpin propinsi dibantu empat suster penasihat, suster penasihat pertama adalah vikaris propinsi.
Dalam propinsialat tercakup jabatan-jabatan sekretaris propinsi dan ekonom propinsi.
Sekretaris propinsi membantu pemimpin propinsi dalam penyelesaian surat-menyurat dan administrasinya.
Ekonom propinsi bertugas mengelola semua harta benda milik propinsi yang bergerak dan tak bergerak dan milik pribadi para suster, dengan tergantung pada pemimpin propinsi beserta dewan penasihatnya.



 































































































Spiritualitas










 

Sejarah Provinsi



 Sejarah Propinsi Indonesia





Perpisahan dengan 4 misionaris pertama di Denekamp
 
Kedatangan empat Misionaris di Indonesia

“Pergilah keseluruh Dunia dan  beritakanlah Injil kepada seluruh makhluk”( Mrk:16.15)


Perintah Tuhan kepada Gereja untuk membawa kabar gembira dan menyelamatkan umat manusia di seluruh dunia, merupakan tugas dan tanggungjawab kita sebagai orang yang telah dipermandikan/katolik. Juga merupakan kewajiban kita suster-suster FSGM untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan ini. 

Terdorong oleh sabda tersebut, Pemimpin Jenderal kami tidak dapat menolak permintaan Mgr. Dr. Meckelholt SCJ yang meminta kehadiran para suster di daerah transmigrasi di Lampung, Indonesia.
Negeri Belanda yang memiliki negara jajahan Indonesia merupakan pintu masuk para misionaris ke negara ini. Maka ketika pemimpin Jenderal di Thuine menyanggupi permintaan Mgr. K.M. Meckelholt SCJ untuk membuka komunitas baru di Sumatera, sebagai puteri sulung yang sudah dewasa, Propinsi Belanda, yang berdomisili di Denekamp menangkap makna kesempatan ini dan menyanggupi untuk membantu memelihara cabang baru yang akan ditanam di Indonesia, baik personalia, pemeliharaan hidup rohani maupun materi. Pada tagl 4 Mei 1932 Denekamp menerima kedatangan empat misionaris pertama dari Jenderalat di Jerman: dua suster berkebangsaan Jerman dan dua suster berkebangsaan Belanda yang akan dikirim ke Indonesia. Pada hari berikutnya tgl 5 Mei 1932 pada hari raya Kristus Naik ke Surga di Denekamp diadakan perpisahan untuk melepas keberangkatan mereka ke Indonesia.  
Kapal Indrapura yang membawa 4 misionaris ke Indonesia
Mereka adalah Sr.M. Odulpha Schwalenberg, berkebangsaan Jerman, Sr.M. Solanis Meyer, berkebangsaan Jerman, Sr.M. Arnolde Wouters, berkebangsaan Belanda dan Sr.M. Engelmunda Van Orten, berkebangsaan Belanda. Dari Denekamp, Nederland para misionaris muda ini berlayar selama tiga minggu dengan kapal Indrapura melalui pelabuhan Mersaile, Perancis menuju Batavia. Ketika mereka tiba di pelabuhan Sunda Kelapa, mereka dijemput dan disambut oleh suster-suster Ursulin dan bermalam di Jl. Pos 2, Jakarta.
4 Suster Misionaris tiba di Pelabuhan Panjang
Hari berikutnya mereka melanjutkan perjalanannya ke Lampung. Di pelabuhan Panjang, mereka disambut oleh  Pastor Van Oort SCJ, Pastor A. Hermelink Gentiaras SCJ, Pastor Kuipers SCJ, dan suster-suster Hati Kudus. Para penjemput dan keempat misionaris menuju Susteran Hati Kudus di Telukbetung. Di kapel susteran mereka merayakan Misa dengan mengumandangkan lagu Te Deum Laudamus sebagai ungkapan syukur . Kemudian para pastor dan keempat misionaris melanjutkan perjalanan ke Pringsewu. Tanggal 4 Juni 1932 mereka tiba di Pringsewu.


Rumah Pertama di Pringsewu


Kepakkan sayap
 
Sehari setelah tiba di Pringsewu Sr.M.Arnolde membuka poliklinik di kamar tamu. Hari demi  hari orang yang berobat bertambah banyak. Pada umumnya para penderita malaria. Setelah menolong pasien di poliklinik, Sr. Arnolde bersepeda  ke desa-desa. Ia membuka pengobatan di rumah-rumah kepala kampung.
SD Beda

Para suster suster juga mempedulikan bidang pendidikan. Meski di Pringsewu dan sekitarnya sudah ada Volkschool ( SD milik misi), para suster mendirikan SD. Beda. Seiring waktu hidup dan karya para suster semakin dikenal oleh masyarakat luas. Akhirnya pekerjaan bertambah banyak, sementara tenaga suster kurang mencukupi. Di samping itu, para suster mulai terjangkit malaria.
Keadaan itu disampaikan ke pusat kongregasi. Tak lama kemudian Kongregasi mengirim tiga suster; Sr.M.Cortilia Welendorf, Sr.M. Edelgardis Hannink dan Sr.M. Adelia Grase. Mereka bertugas mengajar, merawat, mengunjungi keluarga-keluarga dan bekerja di rumah tangga susteran. Hidup dan karya para suster menyentuh beberapa gadis yang bekerja sebagai guru. Mereka didatangkan dari Jawa Tengah oleh Mgr. A. Hermelink. SCJ (waktu itu pastor A. Hermelink SCJ). Tanggal 6 Agustus 1936, dua dari mereka bergabung dengan kami. Dan, pada saat itu Novisiat dibuka/ dimulai.
Tanggal 04 Juni 2007 Propinsi FSGM Indonesia merayakan 75 tahun kehadirannya di bumi pertiwi. Saat ini  jumlah anggota 233 suster dan 30 komunitas. Berkarya di Keuskupan: Tanjungkarang, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Jayapura, Atambua dan Denpasar. Di negara Timor Leste:  di Keuskupan Dili dan Baucau.
Sebagai ungkapan rasa terimakasih dari provinsi Indonesia atas cinta, bantuan dan pengurbanan para suster dari Provinsi St.Antono, Belanda. Dan sejak tahun 1962 tidak ada lagi panggilan, sementara di Indonesia mempunyai cukup suster muda. Maka, tanggal 08 September 2007 diutuslah empat suster untuk tinggal dan berkarya di sana, di keuskupan Utrech, di Denekamp.



Empat Misionaris Indonesia di Belanda
dari kiri ke kanan: Sr.M.Reinalda, Sr.M.Christella, Sr.M.Marian, dan Sr.M.Agustin


Komunitas-komunitas yang ada:

Keuskupan Tanjungkarang:
Pringsewu, Gisting, Panutan, Padangbulan, Kalirejo, Nyukangharjo, Tanjungkarang, Pahoman, Gedungmeneng, Metro, Pajarmataram, Kotabumi, Baradatu dan Liwa.

Keuskupan Agung Palembang:
Baturaja dan Palembang.

Keuskupan Agung Jakarta
Kampung Ambon dan Toasebio

Keuskupan Agung Semarang
          Jogyakarta, Baturetno dan Dalem

Keuskupan Denpasar
          Singaraja

Keuskupan Atambua
          Atambua

Keuskupan Jayapura
          Jayapura, Yiwika dan Wamena

Di Negara Timor Leste

Keuskupan Dili
          Dili dan Wekiar

Keuskupan Baucau
          Natarbora

Keuskupan Utrecht/Nederland
          Denekamp




Senin, 10 Desember 2012

Sejarah Kongregasi



Rumah Pusat Kongregasi Suster Suster Fransiskan St. Georgius Martir


 

 Kongregasi kami mempunyai semboyan:


 Semua untuk kemuliaan Tuhan

 dan keselamatan jiwa kita


 "Melalui pelayanan kita, kita mau
  mewartakan cinta kasih Allah yang penuh kerahiman
  kepada setiap orang"


Perjalanan ke Thuine

    

Atas pemintaan Pastor Gerhard Dall, tanggal 25 Mei 1857 Suster M. Anselma dan Suster Marianne tiba di Thuine. Mereka adalah anggota  Kongregasi Suster-suster Salib suci di Strassburg, Perancis.
Persinggahan yang petama di Emsland adalah di pastoran Lingen, mereka bertemu dengan dekan Diepenbrock yang amat terkejut atas  kedatangan mereka. Beliau menasehatkan agar kedua suster itu kembali saja ke Strassburg, sebab di Thuine tidak ada pekerjaan bagi mereka. Di sana  para penderita telah dilayani suster-suster dari kongregasi lain. 
Setelah mereka mempertimbangkan dengan masak, mereka memutuskan akan meneruskan perjalanannya ke Thuine, karena mereka mendapat tugas dari Pemimpin Jenderalnya untuk pergi ke Thuine. Akhirnya mereka berdua meneruskan perjalanannya ke Thuine.


Kedatangan di Thuine


Rumah Pertama
Kedatangan para suster di Thuine merupakan suatu kejutan, sehingga semuanya tidak dipersiapkan. Tidak disediakan rumah yang layak bagi mereka, maka para suster tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana, rumah itu disebut “Rumah keluarga Brockenmöller.“ Dari tempat inilah para suster memulai pekerjaannya, dalam pelayanan kesehatan.



Pendiri Kongregasi


Muder Anselma Bopp
Pada  Tahun 1869 berdirilah kongregasi baru yang  didirikan oleh Muder M. Anselma Bopp dan Pastor Gerhard Dall, setelah Muder M. Anselma Bopp dan dua suster yang lain melepaskan diri dari kongregasinya, Salib Suci di Strassburg, Perancis.
Pastor Gehard Dall













 

Kehadiran FSGM di Negara-Negara Lain




Perintah Tuhan kepada Gereja untuk  membawa kabar gembira dan menyelamatkan umat manusia di seluruh dunia, merupakan tugas dan tanggungjawab kita sebagai orang yang telah dipermandikan/katolik. Juga merupakan kewajiban kita suster-suster FSGM untuk ikut  ambil bagian dalam karya keselamatan ini. 



Kehadiran Suster-suster FSGM di dunia: 

• 

 Jerman                        ( sejak 1869)

 Belanda                      (sejak 1875)

 Jepang                        (daerah misi, sejak 1920)

 Amerika Serikat        (sejak 1923)

 Indonesia                    (daerah misi, sejak 1932)

 Tansania                     (daerah misi: 1962-2005)

 Brasilia                       (daerah misi sejak 1972)

 Timor Leste                 (sejak 1993, sejak 1999 merupakan daerah misi)

 Albanien                     (daerah misi, sejak  2001)

 Kuba                           (daerah misi, sejak  2011)

 Asisi (Italia)                (sejak 2007)

 Roma (Italia)              (sejak 2008)